Minggu, 15 Juli 2012
Ketauladanan Salman al Farisi
Kali ini saya akan menuliskan sebuah kisah yang baru saya baca di sebuah buku yang berjudul “Bertaubatlah; Agar Menang Dunia Akhirat” karya penulis kesayangan saya, DR. Aidh bin Abdullah Qarni terbitan Maghfirrah. Kisah seorang pemimpin yang zuhud dan sholeh yang patut menjadi panutan kita semua.
Sosok pemimpin itu adalah Salman al Farisi, salah seorang sahabat Rasulullah. Tatkala masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Salman diangkat untuk menjadi Gubernur Kufah. Mendengar gubernur baru akan datang, para penduduk Kufah lantas memadati jalan raya untuk menyambut kedatangannya. Mereka menyangka Sang Gubernur akan diiringi oleh rombongan besar pasukan. Namun ternyata mereka salah, Salman al Farisi datang ke kota itu sendirian dan hanya menunggang seekor keledai. Dia duduk di atasnya sambil memegang tulang berdaging yang digigitnya sedikit demi sedikit.
Melihat ada orang asing yang datang, maka para penduduk pun bertanya. “Apakah di jalan kau melihat Salman al Farisi yang diutus oleh Khalifah Umar bin Khattab?”
“Akulah Salman al Farisi,” jawabnya singkat
“Jangan mengejek dan mencibir kami, seperti Bani Israil ketika berkata kepada Musa, ‘Apakah engkau mengejek kami?’ Musa menjawab, ‘Aku berlindung kepada Allah sekiranya menjadi seorang dari orang-orang yang jahil.” Kata penduduk Kufah mengutip surah al Baqarah ayat 67.
“Aku berlindung kepada Allah sekiranya aku menjadi satu dari orang-orang yang jahil. Ini bukan waktunya lagi untuk bercanda,” kata Salman.
Para penduduk tidak mempercayai keadaan Salman. Bagaimana tidak? Sebab penduduk Irak hidup berdampingan dengan negara Persia yang memiliki istana yang megah dan menjulang tinggi yang dipenuhi emas, perah, sutra dan permadani yang indah. Penduduk Kufah mengira bahwa agama Islam adalah agama yang megah dan mewah. Tapi ternyata mereka salah.
Salman pun berkata, “Tidak, kami datang secara bersahaja. Kami hidup untuk jiwa, dan kami datang untuk mengangkat derajat iman di dalam hati.”
Salman pun menjadi Gubernur Kufah dan ia mendapatkan gaji dari Umar ibnu Khattab. Ia membagi gajinya menjadi 3 bagian, sepertiga untuk dirinya, sepertiga untuk hadiah dan sepertiga sisanya untuk sedekah. Menjelang wafat, dalam keadaan masih menjadi gubernur, para penduduk melihat harta warisan yang akan ditinggalkannya. Ternyata harta yang dimilikinya hanyalah sorabn besar yang ia gunakan untuk alas duduk ketika ada tamu yang datang serta ia gunakan untuk duduk di pengadilan yang ia adakan. Selain itu, ia memiliki sebuah tongkat yang ia gunakan untuk bertopang, berkhutbah dan menjaga diri; serta sebuah wadah untuk makan, mandi dan berwudhu.
Saat sakaratul maut, Salman menangis. Penduduk Kufah pun bertanya, “Kenapa engkau menangis?”
“Aku menangis karena Rasulullah saw pernah bersabda kepada kami, Hendaklah bekal kalian di dunia seperti bekal orang yang bepergian. Sementara kita semua lebih suka menumpuk harta dunia.” Demikian Salman mengutip hadits yang diriwayatkan Ahmad.
Penduduk lantas menjawab, “Semoga Allah mengampunimu. Lantas sebanyak apa harta yang kau miliki Salman?”
“Apa kalian meremehkan ini? Aku takut pada hari kiamat akan ditanya tentang sorban, tongkat dan wadah ini”
Sungguh sebuah kisah yang sangat mulia tentang betapa zuhudnya seorang Salman al Farisi. Di saat para pemimpin berebutan kekuasaan, berebutan harta dan kekayaan, beliau hidup dengan sangat sederhana tanpa memiliki harta sama sekali. Begitu takutnya beliau akan tanggung jawab yang harus diberikannya kepada Allah di hari kiamat tentang hartanya yang hanya berupa sorban, tongkat dan wadah. Sementara, banyak sekali orang yang tidak lagi peduli dari mana hartanya berasal, dan tidak lagi takut akan pertanggungjawabannya kelak di hari akhir.
Mungkin kita semua tidak dapat sezuhud beliau, tapi semoga kita semua bisa menjaga diri kita untuk mengumpulkan harta yang haram dan tidak jelas asal usulnya, Semoag kisah ini bermanfaat bagi kita semua.
Kamis, 05 Juli 2012
Para Manula di Ujung Senja
Kemarin malam saya baru saja menonton film korea yang baru saya copy dari teman. Judul film tersebut adalah “The Way Home”. Film ini menceritakan tentang seorang cucu yang terpaksa tinggal dengan neneknya yang bisu dan berjalan membungkuk. Sang cucu dititipkan oleh sang Ibu kepada neneknya selama beberapa minggu karena sang Ibu harus mencari pekerjaan di kota. Nah, sang cucu ini adalah anak yang bandel dan tidak peduli dengan neneknya. Ia menganggap bahwa neneknya adalah orang yang bodoh dan lambat yang hanya menganggu saja. Film ini sungguh sangat mengharukan dan sarat akan makna.
Sejenak saya mengingat masa kecil saya. Saya tidak ubahnya seperti anak kecil yang bandel itu di film itu. Almarhumah nenek saya kerap kali saya kerjai dan saya menganggap dia mudah untuk dibohongi. Ya.. kala itu saya menganggap bahwa sosok kakek-kakek dan nenek-nenek adalah sosok yang lemah fisik maupun akal mereka. Tapi setelah menonton film ini saya jadi sadar, bahwa tindakan saya saat masih kecil dulu itu salah. Anggapan saya tentang kakek maupun nenek yang uzur dan mudah dibohongi juga saya anggap salah. Mungkin sebenarnya dalam hati mereka tahu bahwa saya tidak jujur dan saya sering membohongi mereka dalam beberapa hal. Tapi mereka lebih memilih mengalah dan memahami tingkah polah anak kecil itu sebagai hal yang lumrah.
Nilai yang saya tangkap dari film itu adalah jangan pernah mempermainkan perasaan orang yang telah lanjut usia. Jangan anggap mereka sebagai beban dan jangan pernah menganggap mereka adalah sesuatu hal yang menganggu kehidupan kita. Bahkan jangan sampai ada di antara kita semua yang selalu mendoakan agar mereka cepat meninggalkan dunia ini. Ingatlah saat kita masih kecil dan tidak berdaya, merekalah yang merawat dan menjaga kita. Ingatlah jasa-jasa mereka terhadap kita sehingga kita bisa hidup sampai sekarang ini. Tanpa bantuan dari mereka kita bukanlah apa-apa.
Saya benar-benar geram jikalau ada orang yang menempatkan kakek-nenek atau ibu bapak mereka yang telah uzur di panti jompo . Ya... dengan alasan tidak sanggup merawatnya. Suatu hal yang sering terlupa adalah para manula yang telah lanjut usia itu juga memiliki perasaan. Saat kita menyakiti mereka, saat kita mengakali, menelantarkan atau mengucapkan kata-kata kasar kepada mereka, sesungguhnya dalam hati mereka sangatlah sedih. Sekarang mari kita bayangkan jika diri kita yang berada di posisi mereka, apakah kita tidak merasa sedih ketika tahu bahwa orang-orang muda telah mempermainkan kita, melupakan jasa-jasa kita dan berani menelantarkannya. Seolah-olah para manula itu adalah sebuah barang, yang jika tidak bermanfaat lagi bisa terbuang.
Menua bukanlah pilihan tapi sebuah kepastian dan tidak ada satu orang pun yang bisa melawan. Kita semua pasti akan menua dan menjadi seperti para manula itu. Janganlah pernah menyakiti perasaan para manula.. Mereka itu sama seperti kita, yang pernah mengalami masa muda dan pernah dalam kondisi yang prima. Sebaliknya kita pun kelak akan menjadi seperti manula itu yang perlahan akan kehilangan kemampuan fisik dan psikisnya.
Mari kita berusaha untuk lebih menghargai dan mencintai para orang tua yang sudah berusia lanjut. Semoga sekelumit tulisan ini bermanfaat.
Senin, 02 Juli 2012
Kebahagiaan yang Dewasa
Sengaja saya menuliskan ini untuk menjadi perenungan bagi diri saya pribadi, syukur-syukur kalo ada yang bisa mengambil hikmah darinya. Ketika kita menjadi dewasa dan dituntut untuk menjalani kehidupan secara mandiri, ternyata ada suatu hal yang berubah dalam menyikapi kehidupan. Tanpa kita sadari setelah kita tumbuh dan pola pikir kita berkembang, ada suatu pergeseran makna tentang kebahagiaan.
Mari kita ingat-ingat kembali saat kita masih kecil dan berada di bawah pengampuan orang tua. Kita menganggap bahwa kebahagiaan akan dapat kita rasakan jika kita berfokus pada diri kita sendiri. Contohnya, kita membeli mainan, makanan, keluar bersama teman dan having fun hanya untuk menyenangkan diri kita sendiri. Tentu saja itu semua kebahagiaan, tapi Itu hanya sebuah pemikiran yang masih kanak-kanak dan tidak dewasa dalam mengartikan kebahagiaan.
Sekarang mari kita cermati pada kehidupan orang dewasa. Dapatkah kita menemukan kebahagiaan jika masih berfokus pada diri sendiri? Jawabannya adalah tidak. Ketika kita dewasa, kita dituntut untuk lebih banyak mengorbankan kebahagiaan kita sendiri demi orang-orang lain yang kita sayangi. Sebagai contoh, laki-laki sebagai seorang suami dan seorang ayah, ia harus bekerja keras, membanting-banting tulangnya seharian untuk memenuhi nafkah bagi keluarganya. Ia dituntut untuk mengorbankan kehidupannya demi kebahagiaan orang yang dia sayangi. Tentu saja ia lelah, capek dan letih, tapi semua itu akan hilang ketika melihat wajah dari istri dan anaknya yang menyambut dengan riang kehadiran dirinya. Inilah kebahagiaan seorang laki-laki yang dewasa.
Ada pula sebuah contoh yang pernah saya dengar dari seorang teman, bahwa alkisah ada seorang Ibu yang berjalan puluhan kilometer hanya untuk membeli perlengkapan sekolah anaknya. Sang Ibu dan keluarganya berada di desa terpencil dan tidak terdapat transportasi yang memadai. Bayangkan betapa letih dan lelahnya kaki sang Ibu untuk menempuh perjalanan itu. Apakah ia melakukan itu untuk kebahagiaan dirinya? Tentu saja tidak, tapi itu semua adalah untuk kebahagiaan anak-anaknya. Sekali lagi, inilah yang saya maksud dengan pergeseran makna kebahagiaan dalam diri orang dewasa. Sang Ibu akan sangat berbahagia jika ia dapat melihat senyum dan tawa bahagia dari sang anak, meski sebenarnya kakinya telah menjerit-jerit kelelahan.
Sungguh betapa mirisnya jika ada seorang yang telah dewasa yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang yang harus dicintainya. Ada kisah di mana seorang suami atau istri yang tega berselingkuh dan meninggalkan anak serta pasangannya hanya untuk mencari kebahagiaannya sendiri. Coba bayangkan pula bila ada orangtua yang bisa makan dengan enaknya sementara anak-anaknya dalam keadaan kelaparan di rumah. Hal yang sangat memalukan sebagai seorang yang dikatakan telah dewasa dan mampu berpikir secara matang. Sangat egois jika ia hanya menginginkan dirinya “enak” dan masa bodoh dengan orang yang harus dicintainya. Semoga kita tidak menjadi orang yang semacam itu.
Akhirnya kita telah sampai pada kesimpulan bahwa ketika kita telah dewasa, kebahagiaan yang kita rasakan harusnya tidak hanya menjadi milik kita sendiri namun juga milik orang yang kita sayangi. Meski kebahagiaan mereka itu harus diperoleh dengan pengorbanan diri kita sendiri, namun senyum dan tawa bahagia orang yang kita sayangilah yang mampu mengubah kelelahan itu menjadi sebuah kenikmatan tersendiri dalam kehidupan. Semangaaatttt.. ^_____^
Minggu, 01 Juli 2012
Pemuda yang Memiliki Dua Potong Kain, Abdullah Dzul Bajadain
Baru saja saya merampungkan membaca bab kedua dari buku “Dengarkan Suara hati” karya ‘Amru Khalid. Di sana saya temui sebuah kisah yang sangat menyentuh hati tentang keistiqomahan seorang sahabat Rasulullah dalam menjalankan agamanya. (Maaf jika kisah ini sedikit panjang) Namanya adalah Abdullah Dzul Bajadain (artinya: yang memiliki dua potong kain), itu merupakan nama pemberian Rasulullah. Namanya yang sebenarnya adalah Abdul Uza al Mazani. Ia berasal dari sebuah kabilah Mazaniah yang terletak di antara Mekah dan Madinah.
Ia telah ditinggalkan oleh kedua orangtuanya sejak masih kecil, karena itulah ia tinggal bersama pamannya. Sang paman adalah orang yang sangat kaya. Banyak harta yang telah dikeluarkannya untuk membiayai Abdul Uza. Ketika ia berumur 16 tahun, ia hidup bergelimang harta. Sampai-sampai ia hanya mau mengenakan pakaian buatan luar. Ia pun memiliki 2 ekor kuda yang selalu dipakainya bergantian. Tapi sayang sekali, ia dan kaum bangsanya masih menyembah berhala.
Suatu saat ketika ia sedang melakukan perjalanan, ia bertemu dengan para Muhajirin. Ia pun melakukan perbincangan dengan mereka dan setelah perbincangan itulah, akhirnya ia pun sadar dan memutuskan untuk memeluk agama Islam. Keadaannya pun berubah. Setiap kali melihat ada sahabat yang berhijrah dari Mekah dan Madinah, ia berlari dan mengikutinya seraya berkata, “Tunggulah aku sampai aku mendengar dari kalian Al Quran. Aku ingin menghapal satu ayat baru dari kalian.” Bayangkan bagaimana tekadnya untuk menuntut ilmu agama lebih dalam, di saat para sahabat merasa jiwanya terancam serta ketakutan akan adanya mata-mata kaum Quraisy. Dalam pikiran Abdul Uza saat itu hanyalah ingin mendekatkan diri kepada Allah saja.
Akhirnya ada seorang sahabat yang berkata, “Mengapa engkau menunggu di negerimu (Mekah) untuk pergi hijrah ke Madiah?”. Ia pun menjawab bahwa ia tidak akan berhijrah kecuali setelah ia mengambil tangan pamannya untuk menjemput sebuah hidayah.
Ia pun menetap dalam kabilahnya selama 3 tahun. Ia tetap berpegang teguh pada agama Islam walaupun seluruh kaumnya jauh dari ketaatan dan menyembah berhala. Selama 3 tahun lamanya ia memaksakan diri untuk tetap istiqomah. Apabila ia ingin beribadah kepada Allah maka ia akan pergi keluar dari kaumnya ke tengah-tengah padang pasir. Selama ini ia menyembunyikan keislamannya dari hadapan orang-orang.
Setiap hari ia pergi menemui pamannya seraya berkata’ “Wahai Pamanku, aku mendengar b ahwa ada seorang lelaki bernama Muhammad yang berkata ini dan itu”. Kemudian ia pun membacakan ayat-ayat al Quran di hadapan sang Paman. Namun pamannya malah menercanya habis-habisan. Selama 3 tahun itu, ia mengalami masa yang berat. Akhirnya kesabarannya pun sampai pada puncaknya.
Ia pun menemui pamannya dan berkata, “ Wahai Paman, aku lebih memilih Rasulullah daripada Engkau. Aku tidak dapat berpisah dengannya. Aku memberitahumu bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusannya. Aku berhijrah kepadanya. Jika engaku mau pergi bersamaku, aku akan menjadi orang yang paling bahagia.”
Pamannya pun menjawab, “Jika kau mengabaikan semuanya selain Islam, maka aku akan mengharamkan semua yang menjadi milikmu.
Ia menjawab, “Wahai Paman, berbuatlah sesukamu, karena aku lebih memilih Allah dan Rasul-Nya.”
Pamannya pun melakukan hal yang tidak dapat dipercaya, “Kalau kau tetap memaksa, maka aku akan mengharamkanmu hingga baju yang melekat di badanmu itu.” Pamannya pun berdiri dan menggunting bajunya. Abdul Uza pun hampir seperti orang yang telanjang. Ia pun tetap keluar dengan kondisi seperti itu. Saat keluar ia menemukan selembar kain wol dan membaginya menjadi 2 bagian, lalu memakainya seperti kain ihram.
Ia pun kemudian berhijrah dan menemui Rasulullah untuk pertama kalinya. Sungguh tidak bisa dibayangkan betapa besar keistiqomahannya kepada Rasulullah sekalipun ia tidak pernah bertemu dengannya. Rasulullah pun bertanya, “Siapakah Anda?’
“Aku adalah Abdul Uza”
Rasulullah pun kembali bertanya, “Mengapa kamu berpakaian seperti ini?”
Ia menjawab, “Pamanku telah berbuat ini kepadaku. Aku telah memilih engkau, wahai Rasulullah dan bersabar selama 3 tahun lamanya, hingga aku bisa datang kepadamu dalam keadaan istiqomah (tetap) taat kepada Allah.”
“Benarkah kau telah melakukan hal itu?”, kata Rasulullah.
“Benar wahai Rasulullah.”
“Mulai hari ini engkau bukanlah Abdul Uza, engkau adalah Abdullah Dzul Bajadain. Allah telah mengganti 2 kain itu dengan tempat tinggal dan kain di dalam surga, yang dapat engkau pakai kapan pun engkau suka dan dapat kau gunakan kapan pun engkau suka.”
Semenjak saat itu ia ikut berjuang bersama Rasulullah, hingga syahid dalam perang Tabuk pada usia 23 tahun.
Ibnu Mas’ud menceritakan hari dimana Abdul Uza wafat. Ia berkata, “ Aku tidur dalam cuaca yang sangat dingin dan dalam keadaan takut akan pekatnya malam. Aku mendengar suara orang yang menggali tanah dan menjadi heran dibuatnya. ‘Siapakah yang menggali tanah malam-malam begini dan dalam cuaca yang sangat dingin?’ Akupun melihat pada tempat tidur Rasulullah dan tidak mendapatkan beliau di sana, Lalu aku melihat tempat tidur Umar, aku juga tidak menemukannya. Kualihkan pandanganku ke tempat tidur Abu Bakar dan aku tidak menemukannya juga.
Aku pun keluar dan melihat Abu Bakar dan Umar sedang memegang lilin, sedangkan Rasulullah sedang menggali tanah. Aku datang kepada beliau dan berkata, “Apa yang engkau lakukan wahai Rasulullah?”
Beliau mengangkat kepalanya ke arahku dengan kedua mata yang dipenuhi dengan air mata, “Saudaramu Dzul Bajadain telah meninggal.”
Aku berpaling kepada Umar dan Abu Bakar dan berkata, “Mengapa kalian biarkan Rasulullah menggali sendiri, sedang kalian hanya berdiri saja?.”
Abu Bakar menjawab, “Rasulullah sendiri yang ingin menggali kuburannya (Abdullah)”
Lalu Nabi mengulurkan tangannya ke arah Abu Bakar dan Umar, “Berikanlah kepadaku (jenazah) saudaramu itu.”
Lalu Nabi berkata, “Hantarkanlah kepergian saudaramu dengan doa karena sesungguhnya ia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya”
Rasulullah pun meletakkan jasad itu ke dalam kubur dengan kedua tangannya sendiri. Air mata beliau pun jatuh membasahi kain kafan Abdullah Dzul Bajadain. Beliau lalu mengangkat tangannya ke arah langit sambil berdoa, “Ya Allah Aku bersaksi kepada Engkau, bahwa aku telah meridhai Dzul Bajadain, maka ridhailah ia.”
Rasulullah pun menguburkannya dengan kedua tangannya yang mulia dan berkata, “Ya Allah, rahmatilah dia karena ia telah membaca Al Qur’an atas dasar cinta kepada Rasulullah SAW.’
***
Sungguh beliau adalah salah satu sahabat yang patut kita teladani. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari kisah tersebut dan bisa bersama-sama memperbaiki keimanan kita yang masih lemah ini. Semoga kita bisa menjadi golongan orang-orang yang di ridhai oleh Allah dan RasulNya..
Selasa, 26 Juni 2012
Mengatasi Kebiasaan Onani
Masalah yang mungkin dialami oleh banyak pemuda pada masa sekarang ini adalah ketergantungan akan zina tangan atau lebih sering kita kenal dengan istilah onani. Bagaimana tidak? Dimasa sekarang ini media penyebaran pornografi atau pengumbar syahwat dapat dengan mudah diperoleh mulai dari internet ataupun sekedar di penjual atau rental DVD di pinggiran jalan. Pemuda-pemuda yang belum menikah pun akhirnya menyalurkan hasratnya dengan jalan yang termudah yaitu zina tangan, tanpa tahu seberapa besar dampak yang dapat ditimbulkannya dimasa depan.
Kebetulan saya baru saja membaca sebuah buku berjudul "Mengendalikan Syahwat; Upaya Menghindari Penyimpangan Seksual" karya Hasan Zakaria Fulaifil, dan saya akan menshare tentang pembahasan onani dan cara mengatasinya.
A. Pengertian Onani
Yang dimaksud dengan onani adalah mengeluarkan air mani dengan cara selain jima'. Disebut juga Khadhkhadhah (mengeluarkan air mani dengan tangan), atau disebut juga Al 'Adah As -Sirriyah, karena onani biasanya dilakukan di dalam ruangan sepi yang jauh dari pandangan manusia.
Dalam buku Ilmu Nfsi An Nuwuw, dijelaskan bahwa onani lebih sering dilakukan oleh laki-laki daripada perempuan. Hal ini karena rangsangan seks pada laki-laki terpusat kepada kemaluannya, sedangkan wanita tersebar di seluruh tubuh. Banyak pemuda yang ketika masih muda demi meredam kobaran syahwatnya, ia mengambil jalan yang termudah yaitu melakukan zina tangan ini.
Adapun hukum dari melakukan onani ini adalah haram karena begitu banyak mudharat yang diberikan saat melakukan hal ini. Adapun dalil keharaman ini ada di Q.S Al Mu'minuun 5-7, yang artinya "Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa yang mencari di selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas".
B. Mudharat Onani
Dua karakter onani adalah:
1. Mudah mengulanginya
Orang yang pernah melakukan onani pasti akan merasakan suatu kecanduan atau keinginan untuk mengulanginya kembali. Namun yang mereka rasakan dengan melakukan onani hanyalah suatu kebahagiaan semu dan kesenangan yang hampa. Setelah melakukan hal tersebut, si pelaku biasanya akan merasa menyesal dan minder, karena ia telah melakukan suatu hal yang diluar fitrahnya.
2. Menyerang para pemuda
Hal ini adalah pembawa kehancuran umat ini, karena pemuda yang melakukan zina tangan ini tidak dapat mengendalikan syahwat mereka. Mereka menjadi pemuda yang lemah dan hanya memikirkan cara pemuas syahwat. Pemuda pun menjadi tidak bersemangat menghadapi masa sekarang dan masa depan
Mengenai mudharatnya akan dibagi menjadi 2 bagian:
1. Terhadap kesehatan fisik dan jiwa
a. Onani akan menyebabkan suami tidak melakuakn bentuk jima' (hubungan) yang lazim terhadap istri,dimana suami dituntut untuk melakukan rangsangan awal melalui kata-kata, sentuhan serta tertuntut berhubungan langsung secara normal, yang sangat berbeda dengan onani. Atau dengan kata lain, si pecandu onani akan berkurang keberaniannya untuk melakukan hubungan badan setelah menikah.
b. Ini adalah dampak terberat yang mungkin akan dialami setelah menikah. Pecandu onani akan mengalami pengerasan kulit kemaluan dan insting seksualnya melemah sehingga kemaluannya tidak terangsang tatkala berhubungan intim, maka sang suami akan meninggalkan istri di tempat tidurnya sambil beronani di hadapannya. Cukuplah hal ini menjadi hukuman terhadap perbuatan yang telah dilakukan setelah menikah. Dari hal-hal di atas, maka jangan heran kalo pelaku onani ini akan kehilangan bentuk dan keseimbangan dalam berhubungan intim antara suami istri dan akan menyebabkan hubungan itu berakhir dengan perceraian
c. Orang yang sering melakukan onani akan cenderung mengisolasi diri dan jauh dari manusia. Ia tidak dapat mencintai orang disekitarnya dan sebaliknya orang lain pun tidak mencintainya. Ia akan mengalami rasa minder yang mendalam, penyesalan, serta krisis kepercayaan diri. Ia hanya akan memperoleh kebahagian semu dan kesenangan yang hampa dari melakukan onani.
d. Pecandu onani hanya akan menjadi orang yang lemah dan tidak berdaya. Ia tidak dapat berpikir secara jernih karena pikirannya hanya melayang-layang ke arah pemuasan syahwat. Ia menjadi manusia yang lemah karena tidak mampu menghadapi dan mengendalikan nafsunya sendiri.
2. Terhadap agama dan moral
Pelaku onani yang jelas akan sering berhadast besar dan terhalang dari menunaikan shalat, masuk masjid dan membaca Al-Qur'an. Ia akan menjadi lebih mudah terjerumus dalam lubang kemaksiatan dan mulai menganggap remeh perbuatan dosa, menjauhkan diri dari ketaatan serta mendorongnya hidup menyendiri dan jauh dari manusia. Sehingga ia akan jatuh dalam lembah kehancuran dan kenistaan. Para malaikata akan menjauh darinya, rahmat tidak akan turun padanya dan Allah akan murka kepadaNya.
Kebiasaan Onani ini merupakan bentuk ketidaksabaran dan ketidaktabahan yang merupakan tanda kelemahan jiwa, pelakunya akan tumbuh namun ia tidak memiliki kekuatan dan tidak mampu berjuang. Jika hal ini terus berlanjut, ia tidak akan sukses dan terus menelan kekalahan dihadapan nafsu dan syahwat.
C. Cara Mengatasi Onani
Berikut ini adalah nasihat-nasihat yang dapat diberikan kepada pelaku onani guna berhenti dari kebiasaan yang haram tersebut:
1. Cara paling ampuh untuk mengatasi kebiasaan ini adalah menumbuhkan KESADARAN. Si pelaku harus menyadari bahwa perbuatannya ini hanya akan membawa dampak buruk kepadanya. Kebahagiaan dan kenikmatan semu yang diperolehnya tidak sebanding dengan mudharat yang diperolehnya. Hendaknya ia mulai mengingat-ingat dan berusaha meneguhkan jiwa untuk lepas dari cengkraman syahwat. Tidak ada cara yang paling ampuh untuk berhenti selain sadar dan terus mengingatkan diri!
2. Menikahlah.. karena dengan menikah anda akan dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Carilah jalan yang sah untuk mengatur keuangan, mencari istri shalihah, mencari rumah tinggal dan lain sebagainya. Niatkanlah hal ini untuk ibadah dan menjaga kesucian diri, insyaAllah akan dipermudah.
3. Sibukkanlah diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Jagalah lintasan pikiran, tolak pikiran buruk yang datang menghampiri. Karena menolak lintasan pikiran akan membuat kita menolak niatan untuk berbuat maksiat.
4. Jangan biarkan diri anda sendiri!! Jika suatu saat keinginan itu muncul kembali, segera keluarlah dari kamar dan bergaulah dengan orang lain. Berbincanglah kepada mereka, maka dengan sendirinya anda akan melupakan niat berbuatan zina tangan.
5. Buang dan jauhi media-media yang dapat menjerumuskan anda. Hancurkan dan buang video-video, majalah, situs-situs yang dapat membangkitkan syahwat.
6. Biasakanlah berolahraga...!!
7. Mulailah berusaha mendekatkan diri kepada Allah dan mengingat bahwa onani adalah perbuatan yang dilarang dan dapat mendatangkan murka dari Allah. Sibukkan diri dengan mencari ilmu dan berdzikir kepadaNya.
8. Jangan percaya bahwa onani dapat meredam api syahwat! Ia malah akan semakin mengobarkan keinginan anda untuk melakukan syahwat.
9. Kurangi makan dan minum serta perbanyaklah berpuasa.
10. Selalu berdoa dan memohon agar bisa lepas dari kebiasaan ini.
11. Hindari keyakinan bahwa onani adalah kemaksiatan kecil. karena apa yang kamu sepelekan akan membuat dosa-dosa lain yang lebih besar.
12. Perhatikan kebiasaan tidur seperti tidur di atas lambung kanan, tidak tidur di atas perut (telungkup) dan berwudhu sebelum tidur
Selamat berjuang dan menjaga kesucian diri. Semoga artikel ini bisa bermanfaat.
***
Kamis, 07 Juni 2012
Bermimpi Bersamamu..
Seperti biasa..
Malam yang indah bersamamu dengan lagu kesayangan kita berdua yang setia menemani kita dalam kesunyian kata. Entah sudah berapa kali kita bersama dan saling mengenggam erat tangan bersama seperti ini. Hanya diam tanpa kata. hanya sunyi tanpa ada kata yang mengalir di dalamnya. Cukuplah genggaman tangan ini menjadi pengganti semua kata yang tertahan.
Angin lembut bertiup malam ini. Mengusik bulu roma yang tadinya terlelap indah. Kau mengenggam erat tanganku dan meletakkan tangan di punggungku. Dingin.. aku tahu kau merasakan kedinginan yang sama denganku. Sayang, aku tidak membawa baju hangat yang bisa menghangatkan tubuhmu malam ini. Kuharap pelukan erat ini dapat menggantikan kehangatan yang kau perlukan. Cukuplah kau mengenggam erat tubuh ini dengan pelukan terhangat yang pernah kau rasakan.
Sudah hampir setengah dasawarsa kita bersama dan menjalani hidup dalam suatu ikatan yang kita setujui bersama. Semua terasa indah. Ya.. sangat indah dan begitu merindukan hati.
"Inikah mimpi?" tanyamu.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk pelan kepadamu..
"Ya sayang... ini semua mimpi dan kita semua sedang bermimpi. Maka nikmatilah mimpi ini dan jangan bangun sebelum aku mengatakan kau untuk bangun."
Kau tersenyum simpul dan menutup matamu serta mendekatkan wajahmu.
"Aku lelah..." katamu.
"Tidurlah... dan bermimpilah dalam dekap hangatku" kataku sambil mengecup pelan dahimu itu.
Malam itu.. menjadi malam yang terindah yang kita miliki bersama. Hanya berdua di bangku taman menerawang bulan dan menikmati semilir angin yang ada. Ya.. hanya berdua...
Dan tak akan ada yang mengusik itu semua.
***
Setahun telah berlalu sejak malam itu. Malam di mana kau tidur dan terlelap indah dalam dekapanku. Malam yang indah dimana angin bertiup lembut dan menggoda kita. Malam dimana kau benar-benar tidur dan tak pernah bangun walaupun sekeras apapun aku menyuruhmu untuk bangun.
"Ah.. lagu ini" pikirku.
Ini adalah lagu kesayangan kita
Aku tersenyum simpul dan mengenang masa lalu indah itu. Masa yang sangat indah...
Kadang aku masih sering kembali ke taman itu. Sendiri... memandang rona bulan dan merasakan angin yang nakal itu lagi.
Aku lelah untuk bermimpi sendiri sayang
Kuhidupkan rokok yang tak sudah lama tak kunyalakan lagi. Menatap langit gelap tanpa bintang-bintang di atasnya. Aku pun duduk dan melihat kerumunan orang yang nampak sibuk itu. Sesekali aku mengangguk dan memberi senyuman hangat kepada mereka. Seorang wanita yang cantik tengah berdiri di antara kerumunan tersebut dan memanggilku dengan suara lembutnya.
Dengan lemah aku pun berdiri... mendekat padanya...
yang akan menemaniku bermimpi lagi...
***
Esok aku akan menyanding orang lain..
Seseorang yang berbeda denganmu..
Tapi sayang...
kamulah yang paling mengisi hati ini...
Karena kamulah yang pertama menggenggam dan memeluk erat tubuh ini...
Tidurlah dengan tenang di sana...
Hingga aku datang dan menemanimu bermimpi kembali.
Rabu, 06 Juni 2012
Cerpen : Wanita dalam Kereta
Seperti kereta ini.. yang berjalan tiada henti menembus sudut-sudut kota yang penuh keramaian.. Ia berjalan terus dalam jalur yang telah ada. Ya.. berjalan dengan tatapan kosong dan tanpa memperhatikan orang lain, itulah yang bisa kutangkap darimu.
Sudah berminggu-minggu lamanya aku menjumpainya. Ya.. dalam waktu yang sama di tiap paginya, gerbong yang sama di tiap paginya. Entah kenapa wajahnya yang selalu menatap kosong ke arah jendela itu selalu menarik perhatianku. Namun.. aku adalah seorang pemalu dan tak pernah mampu mengungkapkan apa yang ada di dalam hatiku. Hanya sebatas memandang dan mengaguminya diam-diam.
Samapi di suatu pagi...
Pagi yang mendung dan tak banyak bercahaya menyelimuti suasana stasiun kala itu. Kau masih mengenakan jaket biru kesayanganmu. Aku selalu tahu bahwa kau selalu bergantian memakai 2 jaket dengan bentuk yang hampir sama, hanya saja warnanya sedikit berbeda. Yang satu biru dan yang satunya kelabu. Kau nampak cantik dan diam seperti biasanya. Aku memandangnya lekat-lekat dan mengaguminya dengan perasaan membuncah. Tiba-tiba kedua mata kami saling bertemu. Karena terlalu kaget, aku memutuskan untuk memalingkan wajahku secepatnya berharap agar ia tidak mengetahuiku. Kejadian ini baru pertama kali terjadi! Biasanya ia selalu sibuk dengan buku dan kadang menatap langit dengan pandangan kosong.
Aku masih saja memalingkan wajahku dan menyembunyikan diri dalam koran yang sedari tadi kupegang. Tanpa kusadari, gadis itu datang mendekat kepadaku. "Aduh...", pikirku. apa yang sebenarnya kupikirkan, harusnya aku merasa senang ketika ia mendekat padaku. Tapi ah, aku terlalu malu untuk menatap wajahnya.
"Bisakah..", suara perempuan itu dengan terbata-bata.
Aku segera menurunkan koran yang sedari tadi menutupi wajahku dan mulai memberanikan diri menatapnya dengan wajah yang sebiasa mungkin.
Ia tersenyum... Arghhh... rasanya seperti mimpi, melihat wajahnya yang tersenyum untuk pertama kalinya.
"Bisakah kau membantuku?" tanyanya dengan nada yang sopan
Aku hanya diam dan membalas dengan gerakan alis.. Jiaaaahhhhh... dasar bodohhhhh!!
"Kamu tidak perlu berkata apa-apa. Aku tahu selama beberapa minggu ini kamu sering memperhatikan diriku", katanya
"Aku hanya minta kau menemaniku hari ini saja."
Aku mengangguk pelan, entah setan apa yang menyambetku hari itu. Padahal hari ini aku harus bekerja dan menyelesaikan tugas-tugas yang mulai menumpuk. Tapi ah, sudahlah! Kesempatan ini sangat jarang sekali kuperoleh, bersama wanita yang kunanti selama ini.
Ia tersenyum dan mulai melangkah pergi. Aku pun mengikutinya dengan wajah yang memerah dan perasaan yang bahagia. Mimpikah aku?
***
Pagi...
Pagi yang sama seperti sebelumnya.. dengan keramaian seperti biasanya. Namun kali ini tanpa ada wanita yang menarik hati itu lagi. Mungkin ia sudah tidak berani muncul lagi setelah kejadian kemarin.
Aku menghela nafas panjang, memandang kosong ke arah langit. Semuanya terasa seperti mimpi
Kini semuanya telah hilang.. wanita itu serta isi dompet dan tabunganku.
Yang tersisa kini hanyalah luka memar dan tangan yang patah akibat keroyokan kawanan penjahat kemarin.
Ya... gerombolan penjahat yang menggunakan wanita sebagai umpannya..
Selasa, 05 Juni 2012
First Entry Lho..!
Ini adalah kali pertama saya memposting tulisan di blog ini. Hehe tulisan perdana nih. Sebenarnya saya bingung dengan apa yang hendak saya tuliskan di blog ini, bahkan saya sendiri tidak tahu kenapa saya membuat blog ini. Awalnya blog ini pengen saya isi dengan berbagai materi bahasa Inggris. Yah waktu itu saya kepikiran buat semacam blog pembelajaran yang bisa memacu saya untuk belajar bahasa Inggris dengan lebih dalam dan itung-itung bisa berbagi pengetahuan dengan teman-teman yang lain. Eh ternyata, tak disangka-sangka akhirnya jadi blog tempat menumpahkan keluh kesah, sampah pikiran, uneg-uneg dan kawan-kawannya.
Karena kebingungan mau ngisi dengan apaan inilah, akhirnya saya membiarkan blog ini terbengkalai selama hampir 2 bulan. Hmm... sayang juga. Nah, mulai malam ini sampai 45 hari menuju puasa ke depan saya berkomitmen untuk menulis setiap hari. Itung-itung sebagai ajang latihan menulis, hehe gini-gini aku punya keinginan untuk menjadi penulis lho! Di depan pintu, aku tulis besar-besar "YOU CAN MAKE 1 BOOK THIS YEAR!" sebagai pengingat serta pemicu agar mau menulis dan mewujudkan keinginan itu. Masih ada sekitar 6 bulan sebelum akhir tahun 2012, bisakah aku mewujudkan itu semua? Hmmm... lets we see it later.. Yang jelas saya sudah berusaha berlatih menulis dengan membuat tulisan-tulisan di blog keroyokan, yaitu di Kompasiana. Yeah, jujur tulisanku emang belum sekeren penulis-penulis lainnya dan belum menemukan kecintaan terhadap menulis.
Nah.. karena itulah saya sengaja menumpahkan segala jenis uneg-uneg disini sebagai sarana untuk menulis. Kalo hal semacam ini ditulis di kompasiana rasanya kurang afdol juga. Lagipula pengunjung blog ini pasti juga cuma sedikit, jadi aku bisa menumpahkan segala keluh kesah dengan seenaknya. baru tahu ternyata punya blog pribadi itu enag ya. ketika pengen nulis, ya nulis aja tanpa perlu takut ada orang yang mengomentari hal yang aneh-aneh... >___<
Yups.. akhir kato.. semoga 45 hari ke depan menjelang puasa, aku bisa merampungkan 45 tulisan.. Syukur-syukur kalo 45 tulisan itu bisa dijadikan buku. Sekedar inpo gan, ane itu suka buat cerpen dan pengen buat kumpulan cerpen. Semoga bisa terkumpul bahan-bahan bikin kumpulan cerpen itu. Setidaknya aku sudah berusaha mewujudkan impian dan tidak membiarkannya menjadi angan-angan semu belaka. SEmaNgaDh menulis broo...!!!
Karena kebingungan mau ngisi dengan apaan inilah, akhirnya saya membiarkan blog ini terbengkalai selama hampir 2 bulan. Hmm... sayang juga. Nah, mulai malam ini sampai 45 hari menuju puasa ke depan saya berkomitmen untuk menulis setiap hari. Itung-itung sebagai ajang latihan menulis, hehe gini-gini aku punya keinginan untuk menjadi penulis lho! Di depan pintu, aku tulis besar-besar "YOU CAN MAKE 1 BOOK THIS YEAR!" sebagai pengingat serta pemicu agar mau menulis dan mewujudkan keinginan itu. Masih ada sekitar 6 bulan sebelum akhir tahun 2012, bisakah aku mewujudkan itu semua? Hmmm... lets we see it later.. Yang jelas saya sudah berusaha berlatih menulis dengan membuat tulisan-tulisan di blog keroyokan, yaitu di Kompasiana. Yeah, jujur tulisanku emang belum sekeren penulis-penulis lainnya dan belum menemukan kecintaan terhadap menulis.
Nah.. karena itulah saya sengaja menumpahkan segala jenis uneg-uneg disini sebagai sarana untuk menulis. Kalo hal semacam ini ditulis di kompasiana rasanya kurang afdol juga. Lagipula pengunjung blog ini pasti juga cuma sedikit, jadi aku bisa menumpahkan segala keluh kesah dengan seenaknya. baru tahu ternyata punya blog pribadi itu enag ya. ketika pengen nulis, ya nulis aja tanpa perlu takut ada orang yang mengomentari hal yang aneh-aneh... >___<
Yups.. akhir kato.. semoga 45 hari ke depan menjelang puasa, aku bisa merampungkan 45 tulisan.. Syukur-syukur kalo 45 tulisan itu bisa dijadikan buku. Sekedar inpo gan, ane itu suka buat cerpen dan pengen buat kumpulan cerpen. Semoga bisa terkumpul bahan-bahan bikin kumpulan cerpen itu. Setidaknya aku sudah berusaha mewujudkan impian dan tidak membiarkannya menjadi angan-angan semu belaka. SEmaNgaDh menulis broo...!!!
Langganan:
Postingan (Atom)
