Minggu, 15 Juli 2012
Ketauladanan Salman al Farisi
Kali ini saya akan menuliskan sebuah kisah yang baru saya baca di sebuah buku yang berjudul “Bertaubatlah; Agar Menang Dunia Akhirat” karya penulis kesayangan saya, DR. Aidh bin Abdullah Qarni terbitan Maghfirrah. Kisah seorang pemimpin yang zuhud dan sholeh yang patut menjadi panutan kita semua.
Sosok pemimpin itu adalah Salman al Farisi, salah seorang sahabat Rasulullah. Tatkala masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Salman diangkat untuk menjadi Gubernur Kufah. Mendengar gubernur baru akan datang, para penduduk Kufah lantas memadati jalan raya untuk menyambut kedatangannya. Mereka menyangka Sang Gubernur akan diiringi oleh rombongan besar pasukan. Namun ternyata mereka salah, Salman al Farisi datang ke kota itu sendirian dan hanya menunggang seekor keledai. Dia duduk di atasnya sambil memegang tulang berdaging yang digigitnya sedikit demi sedikit.
Melihat ada orang asing yang datang, maka para penduduk pun bertanya. “Apakah di jalan kau melihat Salman al Farisi yang diutus oleh Khalifah Umar bin Khattab?”
“Akulah Salman al Farisi,” jawabnya singkat
“Jangan mengejek dan mencibir kami, seperti Bani Israil ketika berkata kepada Musa, ‘Apakah engkau mengejek kami?’ Musa menjawab, ‘Aku berlindung kepada Allah sekiranya menjadi seorang dari orang-orang yang jahil.” Kata penduduk Kufah mengutip surah al Baqarah ayat 67.
“Aku berlindung kepada Allah sekiranya aku menjadi satu dari orang-orang yang jahil. Ini bukan waktunya lagi untuk bercanda,” kata Salman.
Para penduduk tidak mempercayai keadaan Salman. Bagaimana tidak? Sebab penduduk Irak hidup berdampingan dengan negara Persia yang memiliki istana yang megah dan menjulang tinggi yang dipenuhi emas, perah, sutra dan permadani yang indah. Penduduk Kufah mengira bahwa agama Islam adalah agama yang megah dan mewah. Tapi ternyata mereka salah.
Salman pun berkata, “Tidak, kami datang secara bersahaja. Kami hidup untuk jiwa, dan kami datang untuk mengangkat derajat iman di dalam hati.”
Salman pun menjadi Gubernur Kufah dan ia mendapatkan gaji dari Umar ibnu Khattab. Ia membagi gajinya menjadi 3 bagian, sepertiga untuk dirinya, sepertiga untuk hadiah dan sepertiga sisanya untuk sedekah. Menjelang wafat, dalam keadaan masih menjadi gubernur, para penduduk melihat harta warisan yang akan ditinggalkannya. Ternyata harta yang dimilikinya hanyalah sorabn besar yang ia gunakan untuk alas duduk ketika ada tamu yang datang serta ia gunakan untuk duduk di pengadilan yang ia adakan. Selain itu, ia memiliki sebuah tongkat yang ia gunakan untuk bertopang, berkhutbah dan menjaga diri; serta sebuah wadah untuk makan, mandi dan berwudhu.
Saat sakaratul maut, Salman menangis. Penduduk Kufah pun bertanya, “Kenapa engkau menangis?”
“Aku menangis karena Rasulullah saw pernah bersabda kepada kami, Hendaklah bekal kalian di dunia seperti bekal orang yang bepergian. Sementara kita semua lebih suka menumpuk harta dunia.” Demikian Salman mengutip hadits yang diriwayatkan Ahmad.
Penduduk lantas menjawab, “Semoga Allah mengampunimu. Lantas sebanyak apa harta yang kau miliki Salman?”
“Apa kalian meremehkan ini? Aku takut pada hari kiamat akan ditanya tentang sorban, tongkat dan wadah ini”
Sungguh sebuah kisah yang sangat mulia tentang betapa zuhudnya seorang Salman al Farisi. Di saat para pemimpin berebutan kekuasaan, berebutan harta dan kekayaan, beliau hidup dengan sangat sederhana tanpa memiliki harta sama sekali. Begitu takutnya beliau akan tanggung jawab yang harus diberikannya kepada Allah di hari kiamat tentang hartanya yang hanya berupa sorban, tongkat dan wadah. Sementara, banyak sekali orang yang tidak lagi peduli dari mana hartanya berasal, dan tidak lagi takut akan pertanggungjawabannya kelak di hari akhir.
Mungkin kita semua tidak dapat sezuhud beliau, tapi semoga kita semua bisa menjaga diri kita untuk mengumpulkan harta yang haram dan tidak jelas asal usulnya, Semoag kisah ini bermanfaat bagi kita semua.
Kamis, 05 Juli 2012
Para Manula di Ujung Senja
Kemarin malam saya baru saja menonton film korea yang baru saya copy dari teman. Judul film tersebut adalah “The Way Home”. Film ini menceritakan tentang seorang cucu yang terpaksa tinggal dengan neneknya yang bisu dan berjalan membungkuk. Sang cucu dititipkan oleh sang Ibu kepada neneknya selama beberapa minggu karena sang Ibu harus mencari pekerjaan di kota. Nah, sang cucu ini adalah anak yang bandel dan tidak peduli dengan neneknya. Ia menganggap bahwa neneknya adalah orang yang bodoh dan lambat yang hanya menganggu saja. Film ini sungguh sangat mengharukan dan sarat akan makna.
Sejenak saya mengingat masa kecil saya. Saya tidak ubahnya seperti anak kecil yang bandel itu di film itu. Almarhumah nenek saya kerap kali saya kerjai dan saya menganggap dia mudah untuk dibohongi. Ya.. kala itu saya menganggap bahwa sosok kakek-kakek dan nenek-nenek adalah sosok yang lemah fisik maupun akal mereka. Tapi setelah menonton film ini saya jadi sadar, bahwa tindakan saya saat masih kecil dulu itu salah. Anggapan saya tentang kakek maupun nenek yang uzur dan mudah dibohongi juga saya anggap salah. Mungkin sebenarnya dalam hati mereka tahu bahwa saya tidak jujur dan saya sering membohongi mereka dalam beberapa hal. Tapi mereka lebih memilih mengalah dan memahami tingkah polah anak kecil itu sebagai hal yang lumrah.
Nilai yang saya tangkap dari film itu adalah jangan pernah mempermainkan perasaan orang yang telah lanjut usia. Jangan anggap mereka sebagai beban dan jangan pernah menganggap mereka adalah sesuatu hal yang menganggu kehidupan kita. Bahkan jangan sampai ada di antara kita semua yang selalu mendoakan agar mereka cepat meninggalkan dunia ini. Ingatlah saat kita masih kecil dan tidak berdaya, merekalah yang merawat dan menjaga kita. Ingatlah jasa-jasa mereka terhadap kita sehingga kita bisa hidup sampai sekarang ini. Tanpa bantuan dari mereka kita bukanlah apa-apa.
Saya benar-benar geram jikalau ada orang yang menempatkan kakek-nenek atau ibu bapak mereka yang telah uzur di panti jompo . Ya... dengan alasan tidak sanggup merawatnya. Suatu hal yang sering terlupa adalah para manula yang telah lanjut usia itu juga memiliki perasaan. Saat kita menyakiti mereka, saat kita mengakali, menelantarkan atau mengucapkan kata-kata kasar kepada mereka, sesungguhnya dalam hati mereka sangatlah sedih. Sekarang mari kita bayangkan jika diri kita yang berada di posisi mereka, apakah kita tidak merasa sedih ketika tahu bahwa orang-orang muda telah mempermainkan kita, melupakan jasa-jasa kita dan berani menelantarkannya. Seolah-olah para manula itu adalah sebuah barang, yang jika tidak bermanfaat lagi bisa terbuang.
Menua bukanlah pilihan tapi sebuah kepastian dan tidak ada satu orang pun yang bisa melawan. Kita semua pasti akan menua dan menjadi seperti para manula itu. Janganlah pernah menyakiti perasaan para manula.. Mereka itu sama seperti kita, yang pernah mengalami masa muda dan pernah dalam kondisi yang prima. Sebaliknya kita pun kelak akan menjadi seperti manula itu yang perlahan akan kehilangan kemampuan fisik dan psikisnya.
Mari kita berusaha untuk lebih menghargai dan mencintai para orang tua yang sudah berusia lanjut. Semoga sekelumit tulisan ini bermanfaat.
Senin, 02 Juli 2012
Kebahagiaan yang Dewasa
Sengaja saya menuliskan ini untuk menjadi perenungan bagi diri saya pribadi, syukur-syukur kalo ada yang bisa mengambil hikmah darinya. Ketika kita menjadi dewasa dan dituntut untuk menjalani kehidupan secara mandiri, ternyata ada suatu hal yang berubah dalam menyikapi kehidupan. Tanpa kita sadari setelah kita tumbuh dan pola pikir kita berkembang, ada suatu pergeseran makna tentang kebahagiaan.
Mari kita ingat-ingat kembali saat kita masih kecil dan berada di bawah pengampuan orang tua. Kita menganggap bahwa kebahagiaan akan dapat kita rasakan jika kita berfokus pada diri kita sendiri. Contohnya, kita membeli mainan, makanan, keluar bersama teman dan having fun hanya untuk menyenangkan diri kita sendiri. Tentu saja itu semua kebahagiaan, tapi Itu hanya sebuah pemikiran yang masih kanak-kanak dan tidak dewasa dalam mengartikan kebahagiaan.
Sekarang mari kita cermati pada kehidupan orang dewasa. Dapatkah kita menemukan kebahagiaan jika masih berfokus pada diri sendiri? Jawabannya adalah tidak. Ketika kita dewasa, kita dituntut untuk lebih banyak mengorbankan kebahagiaan kita sendiri demi orang-orang lain yang kita sayangi. Sebagai contoh, laki-laki sebagai seorang suami dan seorang ayah, ia harus bekerja keras, membanting-banting tulangnya seharian untuk memenuhi nafkah bagi keluarganya. Ia dituntut untuk mengorbankan kehidupannya demi kebahagiaan orang yang dia sayangi. Tentu saja ia lelah, capek dan letih, tapi semua itu akan hilang ketika melihat wajah dari istri dan anaknya yang menyambut dengan riang kehadiran dirinya. Inilah kebahagiaan seorang laki-laki yang dewasa.
Ada pula sebuah contoh yang pernah saya dengar dari seorang teman, bahwa alkisah ada seorang Ibu yang berjalan puluhan kilometer hanya untuk membeli perlengkapan sekolah anaknya. Sang Ibu dan keluarganya berada di desa terpencil dan tidak terdapat transportasi yang memadai. Bayangkan betapa letih dan lelahnya kaki sang Ibu untuk menempuh perjalanan itu. Apakah ia melakukan itu untuk kebahagiaan dirinya? Tentu saja tidak, tapi itu semua adalah untuk kebahagiaan anak-anaknya. Sekali lagi, inilah yang saya maksud dengan pergeseran makna kebahagiaan dalam diri orang dewasa. Sang Ibu akan sangat berbahagia jika ia dapat melihat senyum dan tawa bahagia dari sang anak, meski sebenarnya kakinya telah menjerit-jerit kelelahan.
Sungguh betapa mirisnya jika ada seorang yang telah dewasa yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang yang harus dicintainya. Ada kisah di mana seorang suami atau istri yang tega berselingkuh dan meninggalkan anak serta pasangannya hanya untuk mencari kebahagiaannya sendiri. Coba bayangkan pula bila ada orangtua yang bisa makan dengan enaknya sementara anak-anaknya dalam keadaan kelaparan di rumah. Hal yang sangat memalukan sebagai seorang yang dikatakan telah dewasa dan mampu berpikir secara matang. Sangat egois jika ia hanya menginginkan dirinya “enak” dan masa bodoh dengan orang yang harus dicintainya. Semoga kita tidak menjadi orang yang semacam itu.
Akhirnya kita telah sampai pada kesimpulan bahwa ketika kita telah dewasa, kebahagiaan yang kita rasakan harusnya tidak hanya menjadi milik kita sendiri namun juga milik orang yang kita sayangi. Meski kebahagiaan mereka itu harus diperoleh dengan pengorbanan diri kita sendiri, namun senyum dan tawa bahagia orang yang kita sayangilah yang mampu mengubah kelelahan itu menjadi sebuah kenikmatan tersendiri dalam kehidupan. Semangaaatttt.. ^_____^
Minggu, 01 Juli 2012
Pemuda yang Memiliki Dua Potong Kain, Abdullah Dzul Bajadain
Baru saja saya merampungkan membaca bab kedua dari buku “Dengarkan Suara hati” karya ‘Amru Khalid. Di sana saya temui sebuah kisah yang sangat menyentuh hati tentang keistiqomahan seorang sahabat Rasulullah dalam menjalankan agamanya. (Maaf jika kisah ini sedikit panjang) Namanya adalah Abdullah Dzul Bajadain (artinya: yang memiliki dua potong kain), itu merupakan nama pemberian Rasulullah. Namanya yang sebenarnya adalah Abdul Uza al Mazani. Ia berasal dari sebuah kabilah Mazaniah yang terletak di antara Mekah dan Madinah.
Ia telah ditinggalkan oleh kedua orangtuanya sejak masih kecil, karena itulah ia tinggal bersama pamannya. Sang paman adalah orang yang sangat kaya. Banyak harta yang telah dikeluarkannya untuk membiayai Abdul Uza. Ketika ia berumur 16 tahun, ia hidup bergelimang harta. Sampai-sampai ia hanya mau mengenakan pakaian buatan luar. Ia pun memiliki 2 ekor kuda yang selalu dipakainya bergantian. Tapi sayang sekali, ia dan kaum bangsanya masih menyembah berhala.
Suatu saat ketika ia sedang melakukan perjalanan, ia bertemu dengan para Muhajirin. Ia pun melakukan perbincangan dengan mereka dan setelah perbincangan itulah, akhirnya ia pun sadar dan memutuskan untuk memeluk agama Islam. Keadaannya pun berubah. Setiap kali melihat ada sahabat yang berhijrah dari Mekah dan Madinah, ia berlari dan mengikutinya seraya berkata, “Tunggulah aku sampai aku mendengar dari kalian Al Quran. Aku ingin menghapal satu ayat baru dari kalian.” Bayangkan bagaimana tekadnya untuk menuntut ilmu agama lebih dalam, di saat para sahabat merasa jiwanya terancam serta ketakutan akan adanya mata-mata kaum Quraisy. Dalam pikiran Abdul Uza saat itu hanyalah ingin mendekatkan diri kepada Allah saja.
Akhirnya ada seorang sahabat yang berkata, “Mengapa engkau menunggu di negerimu (Mekah) untuk pergi hijrah ke Madiah?”. Ia pun menjawab bahwa ia tidak akan berhijrah kecuali setelah ia mengambil tangan pamannya untuk menjemput sebuah hidayah.
Ia pun menetap dalam kabilahnya selama 3 tahun. Ia tetap berpegang teguh pada agama Islam walaupun seluruh kaumnya jauh dari ketaatan dan menyembah berhala. Selama 3 tahun lamanya ia memaksakan diri untuk tetap istiqomah. Apabila ia ingin beribadah kepada Allah maka ia akan pergi keluar dari kaumnya ke tengah-tengah padang pasir. Selama ini ia menyembunyikan keislamannya dari hadapan orang-orang.
Setiap hari ia pergi menemui pamannya seraya berkata’ “Wahai Pamanku, aku mendengar b ahwa ada seorang lelaki bernama Muhammad yang berkata ini dan itu”. Kemudian ia pun membacakan ayat-ayat al Quran di hadapan sang Paman. Namun pamannya malah menercanya habis-habisan. Selama 3 tahun itu, ia mengalami masa yang berat. Akhirnya kesabarannya pun sampai pada puncaknya.
Ia pun menemui pamannya dan berkata, “ Wahai Paman, aku lebih memilih Rasulullah daripada Engkau. Aku tidak dapat berpisah dengannya. Aku memberitahumu bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusannya. Aku berhijrah kepadanya. Jika engaku mau pergi bersamaku, aku akan menjadi orang yang paling bahagia.”
Pamannya pun menjawab, “Jika kau mengabaikan semuanya selain Islam, maka aku akan mengharamkan semua yang menjadi milikmu.
Ia menjawab, “Wahai Paman, berbuatlah sesukamu, karena aku lebih memilih Allah dan Rasul-Nya.”
Pamannya pun melakukan hal yang tidak dapat dipercaya, “Kalau kau tetap memaksa, maka aku akan mengharamkanmu hingga baju yang melekat di badanmu itu.” Pamannya pun berdiri dan menggunting bajunya. Abdul Uza pun hampir seperti orang yang telanjang. Ia pun tetap keluar dengan kondisi seperti itu. Saat keluar ia menemukan selembar kain wol dan membaginya menjadi 2 bagian, lalu memakainya seperti kain ihram.
Ia pun kemudian berhijrah dan menemui Rasulullah untuk pertama kalinya. Sungguh tidak bisa dibayangkan betapa besar keistiqomahannya kepada Rasulullah sekalipun ia tidak pernah bertemu dengannya. Rasulullah pun bertanya, “Siapakah Anda?’
“Aku adalah Abdul Uza”
Rasulullah pun kembali bertanya, “Mengapa kamu berpakaian seperti ini?”
Ia menjawab, “Pamanku telah berbuat ini kepadaku. Aku telah memilih engkau, wahai Rasulullah dan bersabar selama 3 tahun lamanya, hingga aku bisa datang kepadamu dalam keadaan istiqomah (tetap) taat kepada Allah.”
“Benarkah kau telah melakukan hal itu?”, kata Rasulullah.
“Benar wahai Rasulullah.”
“Mulai hari ini engkau bukanlah Abdul Uza, engkau adalah Abdullah Dzul Bajadain. Allah telah mengganti 2 kain itu dengan tempat tinggal dan kain di dalam surga, yang dapat engkau pakai kapan pun engkau suka dan dapat kau gunakan kapan pun engkau suka.”
Semenjak saat itu ia ikut berjuang bersama Rasulullah, hingga syahid dalam perang Tabuk pada usia 23 tahun.
Ibnu Mas’ud menceritakan hari dimana Abdul Uza wafat. Ia berkata, “ Aku tidur dalam cuaca yang sangat dingin dan dalam keadaan takut akan pekatnya malam. Aku mendengar suara orang yang menggali tanah dan menjadi heran dibuatnya. ‘Siapakah yang menggali tanah malam-malam begini dan dalam cuaca yang sangat dingin?’ Akupun melihat pada tempat tidur Rasulullah dan tidak mendapatkan beliau di sana, Lalu aku melihat tempat tidur Umar, aku juga tidak menemukannya. Kualihkan pandanganku ke tempat tidur Abu Bakar dan aku tidak menemukannya juga.
Aku pun keluar dan melihat Abu Bakar dan Umar sedang memegang lilin, sedangkan Rasulullah sedang menggali tanah. Aku datang kepada beliau dan berkata, “Apa yang engkau lakukan wahai Rasulullah?”
Beliau mengangkat kepalanya ke arahku dengan kedua mata yang dipenuhi dengan air mata, “Saudaramu Dzul Bajadain telah meninggal.”
Aku berpaling kepada Umar dan Abu Bakar dan berkata, “Mengapa kalian biarkan Rasulullah menggali sendiri, sedang kalian hanya berdiri saja?.”
Abu Bakar menjawab, “Rasulullah sendiri yang ingin menggali kuburannya (Abdullah)”
Lalu Nabi mengulurkan tangannya ke arah Abu Bakar dan Umar, “Berikanlah kepadaku (jenazah) saudaramu itu.”
Lalu Nabi berkata, “Hantarkanlah kepergian saudaramu dengan doa karena sesungguhnya ia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya”
Rasulullah pun meletakkan jasad itu ke dalam kubur dengan kedua tangannya sendiri. Air mata beliau pun jatuh membasahi kain kafan Abdullah Dzul Bajadain. Beliau lalu mengangkat tangannya ke arah langit sambil berdoa, “Ya Allah Aku bersaksi kepada Engkau, bahwa aku telah meridhai Dzul Bajadain, maka ridhailah ia.”
Rasulullah pun menguburkannya dengan kedua tangannya yang mulia dan berkata, “Ya Allah, rahmatilah dia karena ia telah membaca Al Qur’an atas dasar cinta kepada Rasulullah SAW.’
***
Sungguh beliau adalah salah satu sahabat yang patut kita teladani. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari kisah tersebut dan bisa bersama-sama memperbaiki keimanan kita yang masih lemah ini. Semoga kita bisa menjadi golongan orang-orang yang di ridhai oleh Allah dan RasulNya..
Langganan:
Postingan (Atom)