Senin, 02 Juli 2012

Kebahagiaan yang Dewasa





Sengaja saya menuliskan ini untuk menjadi perenungan bagi diri saya pribadi, syukur-syukur kalo ada yang bisa mengambil hikmah darinya. Ketika kita menjadi dewasa dan dituntut untuk menjalani kehidupan secara mandiri, ternyata ada suatu hal yang berubah dalam menyikapi kehidupan. Tanpa kita sadari setelah kita tumbuh dan pola pikir kita berkembang, ada suatu pergeseran makna tentang kebahagiaan.

Mari kita ingat-ingat kembali saat kita masih kecil dan berada di bawah pengampuan orang tua. Kita menganggap bahwa kebahagiaan akan dapat kita rasakan jika kita berfokus pada diri kita sendiri. Contohnya, kita membeli mainan, makanan, keluar bersama teman dan having fun hanya untuk menyenangkan diri kita sendiri. Tentu saja itu semua kebahagiaan, tapi Itu hanya sebuah pemikiran yang masih kanak-kanak dan tidak dewasa dalam mengartikan kebahagiaan.

Sekarang mari kita cermati pada kehidupan orang dewasa. Dapatkah kita menemukan kebahagiaan jika masih berfokus pada diri sendiri? Jawabannya adalah tidak. Ketika kita dewasa, kita dituntut untuk lebih banyak mengorbankan kebahagiaan kita sendiri demi orang-orang lain yang kita sayangi. Sebagai contoh, laki-laki sebagai seorang suami dan seorang ayah, ia harus bekerja keras, membanting-banting tulangnya seharian untuk memenuhi nafkah bagi keluarganya. Ia dituntut untuk mengorbankan kehidupannya demi kebahagiaan orang yang dia sayangi. Tentu saja ia lelah, capek dan letih, tapi semua itu akan hilang ketika melihat wajah dari istri dan anaknya yang menyambut dengan riang kehadiran dirinya. Inilah kebahagiaan seorang laki-laki yang dewasa.

Ada pula sebuah contoh yang pernah saya dengar dari seorang teman, bahwa alkisah ada seorang Ibu yang berjalan puluhan kilometer hanya untuk membeli perlengkapan sekolah anaknya. Sang Ibu dan keluarganya berada di desa terpencil dan tidak terdapat transportasi yang memadai. Bayangkan betapa letih dan lelahnya kaki sang Ibu untuk menempuh perjalanan itu. Apakah ia melakukan itu untuk kebahagiaan dirinya? Tentu saja tidak, tapi itu semua adalah untuk kebahagiaan anak-anaknya. Sekali lagi, inilah yang saya maksud dengan pergeseran makna kebahagiaan dalam diri orang dewasa. Sang Ibu akan sangat berbahagia jika ia dapat melihat senyum dan tawa bahagia dari sang anak, meski sebenarnya kakinya telah menjerit-jerit kelelahan.

Sungguh betapa mirisnya jika ada seorang yang telah dewasa yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang yang harus dicintainya. Ada kisah di mana seorang suami atau istri yang tega berselingkuh dan meninggalkan anak serta pasangannya hanya untuk mencari kebahagiaannya sendiri. Coba bayangkan pula bila ada orangtua yang bisa makan dengan enaknya sementara anak-anaknya dalam keadaan kelaparan di rumah. Hal yang sangat memalukan sebagai seorang yang dikatakan telah dewasa dan mampu berpikir secara matang. Sangat egois jika ia hanya menginginkan dirinya “enak” dan masa bodoh dengan orang yang harus dicintainya. Semoga kita tidak menjadi orang yang semacam itu.

Akhirnya kita telah sampai pada kesimpulan bahwa ketika kita telah dewasa, kebahagiaan yang kita rasakan harusnya tidak hanya menjadi milik kita sendiri namun juga milik orang yang kita sayangi. Meski kebahagiaan mereka itu harus diperoleh dengan pengorbanan diri kita sendiri, namun senyum dan tawa bahagia orang yang kita sayangilah yang mampu mengubah kelelahan itu menjadi sebuah kenikmatan tersendiri dalam kehidupan. Semangaaatttt.. ^_____^


Tidak ada komentar:

SharkBreak - Online Aquarium

PitaPata Cat tickers

PitaPata Cat tickers