Kamis, 05 Juli 2012
Para Manula di Ujung Senja
Kemarin malam saya baru saja menonton film korea yang baru saya copy dari teman. Judul film tersebut adalah “The Way Home”. Film ini menceritakan tentang seorang cucu yang terpaksa tinggal dengan neneknya yang bisu dan berjalan membungkuk. Sang cucu dititipkan oleh sang Ibu kepada neneknya selama beberapa minggu karena sang Ibu harus mencari pekerjaan di kota. Nah, sang cucu ini adalah anak yang bandel dan tidak peduli dengan neneknya. Ia menganggap bahwa neneknya adalah orang yang bodoh dan lambat yang hanya menganggu saja. Film ini sungguh sangat mengharukan dan sarat akan makna.
Sejenak saya mengingat masa kecil saya. Saya tidak ubahnya seperti anak kecil yang bandel itu di film itu. Almarhumah nenek saya kerap kali saya kerjai dan saya menganggap dia mudah untuk dibohongi. Ya.. kala itu saya menganggap bahwa sosok kakek-kakek dan nenek-nenek adalah sosok yang lemah fisik maupun akal mereka. Tapi setelah menonton film ini saya jadi sadar, bahwa tindakan saya saat masih kecil dulu itu salah. Anggapan saya tentang kakek maupun nenek yang uzur dan mudah dibohongi juga saya anggap salah. Mungkin sebenarnya dalam hati mereka tahu bahwa saya tidak jujur dan saya sering membohongi mereka dalam beberapa hal. Tapi mereka lebih memilih mengalah dan memahami tingkah polah anak kecil itu sebagai hal yang lumrah.
Nilai yang saya tangkap dari film itu adalah jangan pernah mempermainkan perasaan orang yang telah lanjut usia. Jangan anggap mereka sebagai beban dan jangan pernah menganggap mereka adalah sesuatu hal yang menganggu kehidupan kita. Bahkan jangan sampai ada di antara kita semua yang selalu mendoakan agar mereka cepat meninggalkan dunia ini. Ingatlah saat kita masih kecil dan tidak berdaya, merekalah yang merawat dan menjaga kita. Ingatlah jasa-jasa mereka terhadap kita sehingga kita bisa hidup sampai sekarang ini. Tanpa bantuan dari mereka kita bukanlah apa-apa.
Saya benar-benar geram jikalau ada orang yang menempatkan kakek-nenek atau ibu bapak mereka yang telah uzur di panti jompo . Ya... dengan alasan tidak sanggup merawatnya. Suatu hal yang sering terlupa adalah para manula yang telah lanjut usia itu juga memiliki perasaan. Saat kita menyakiti mereka, saat kita mengakali, menelantarkan atau mengucapkan kata-kata kasar kepada mereka, sesungguhnya dalam hati mereka sangatlah sedih. Sekarang mari kita bayangkan jika diri kita yang berada di posisi mereka, apakah kita tidak merasa sedih ketika tahu bahwa orang-orang muda telah mempermainkan kita, melupakan jasa-jasa kita dan berani menelantarkannya. Seolah-olah para manula itu adalah sebuah barang, yang jika tidak bermanfaat lagi bisa terbuang.
Menua bukanlah pilihan tapi sebuah kepastian dan tidak ada satu orang pun yang bisa melawan. Kita semua pasti akan menua dan menjadi seperti para manula itu. Janganlah pernah menyakiti perasaan para manula.. Mereka itu sama seperti kita, yang pernah mengalami masa muda dan pernah dalam kondisi yang prima. Sebaliknya kita pun kelak akan menjadi seperti manula itu yang perlahan akan kehilangan kemampuan fisik dan psikisnya.
Mari kita berusaha untuk lebih menghargai dan mencintai para orang tua yang sudah berusia lanjut. Semoga sekelumit tulisan ini bermanfaat.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar